Skip to main content

Tips 'n Trik Menu Harian Untuk Anak Picky Eater

Yes..

Setelah beberapa Minggu ini terombang-ambing job desc: rapotan, program, evaluasi da beberapa event sekolah yang sudah berakhir kemarin.. untuk semester dan kemudian menuju liburan sekolah di pertengahan Desember ini, akhirnya tinaafandi kembali nulis..

Yeay..

Siapa nih yang baca judulnya udah merasa relate banget.. yup, ini adalah permasalahan yang dihadapi ga hanya mom sendiri kok.. ternyata eh ternyata.. belajar makan untuk anak itu sulit lohh mom..

Di acara open house sekolah, tinaafandi didaulat sekolah untuk garap event sharing session yang memiliki konten parenting dan kekinian. Dan...


Ini dia review sedikit apa sih picky Eater itu? yakin anak mom, dikategorikan picky Eater atau memang punya eating habit yang belum memantik anak untuk makan banyak jenis makanan? atau kita sebagai penyedia menu setiap harinya, masih mesti berusaha lagi untuk lebih kreatif menyajikan menu makanan untuk keluarga?

Atau pernah ga mom, berubah jadi MOMster ketika waktunya makan bersama, si kecil tak kunjung melahap makanannya.. jadinya, mom menghabiskan waktu untuk menyuapi si kecil dan mom kehilangan kesempatan untuk menikmati makanan kita sendiri? (Sering banget, Tinaafandi mengalami hal itu)

Atau kasus lainnya, anak-anak pengennya makan itu itu ajaaa.. seputar telor, nugget, sosis, kentang dan ya.. nasi tentunya.. gimana dengan asupan sayur buah si kecil? Sudah terpenuhi kah? 

Duhh.. kita belum sempet posting ritual makan anak yang rapi dan bersih plus makanan yang ludes dilahap si kecil.. sebagai pencapaian kita sebagai mom, bahan postingan di Instagram lagi.. semakin membuat mom gahar.. (been there, done that)

Tenang tenang... dr Tami, penulis buku "Makan Tepat, Tumbuh Sehat" punya tips and triknya.. yuk.. cek sama-sama

Jadi, dr Tami mulai dari penyebutan anak kita yang milih-milih makanan dengan sebutan picky Eater.. karena menurutnya, ada beberapa indikator yang mesti kita pahami sebelum mendiagnosis anak dengan sebutan picky Eater.. apakah anak kita sudah bisa makan 20 jenis makanan di usianya yang kedua? Jenis makanan yang disebutkan disini adalah resep masakannya, bukan pada bahan dasarnya ya mom.. contohnya: kentang. Masakan : kentang goreng (dihitung satu) kemudian kentang wedges (dihitung dua), kentang tumbuk (dihitung tiga) begitu selanjutnya. Kalau sudah menemukan hitungan jenis makanan yang dikonsumsi anak hingga usia 2 tahun lebih dari 20 jenis. Maka, anak kita tidak termasuk picky Eater.

Lantas? 

Bedakan lagi dengan sebutan selective Eater/problem feeder, biasanya untuk anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat mengonsumsi semua jenis karbo, semisal hanya kentang saja.

Selain itu, ada juga small Eater. Apa itu? Kebiasaan makan anak tuh beda-beda, ada yang seperti kelinci, makan dalam porsi sedikit, tapi sering. Ada juga yang seperti ular, makan dalam porsi banyak, tapi jarang. Well, ternyata hal ini berpengaruh juga loh mom..

Asupan makanan apa saja sih dan seberapa banyak yang mesti kita kasih ke anak sesuai umurnya?

Berikut penjelasannya:
1. Berikan 1 sendok makan per grup makanan/tahun
2. Berikan dalam porsi kecil
3. Tawarkan 'mini meals' tiap 3 jam
4. Bukan piring dewasa

Nah, belajar makan pun tak semudah yang kita pikirkan loh mom.. dr Tami memberikan stimulasi tiga peserta sharing session, stimulasi pertama, bayangkan ketika kita memasukkan lolipop kemudian kita hanya bisa membuka tutup mulut tanpa menghisapnya.. humh.. ga enak ya? Kemudian, stimulasi kedua, dr Tami memberikan makanan yang cair dan mulut belepotan makanan, biarkan saja mom.. biarkan anak merasakan sensasinya.. membersihkan mulut dari makanan itu adalah tahap ia belajar makan. Terakhir, stimulasinya adalah minum air mineral setelah 3 teguk, kita menengadahkan kepala dan menelan airnya, ya, ngak nyaman pasti.. bayangkan saat kita memangku anak dan memaksakan anak untuk menelan air minumnya.. duh.. istighfar.. istighfar..

Belajar makan adalah belajar sensori motor. Anak melewati beberapa tahap sebelum ia menelan makanannya.. ini dia, tahapannya tolerate, touch, smell, kiss, lick, bite and chew/swallow. Panjang ya mom...?

Betul sekali. Jangan patah semangat mom.. kalau anak belum memakan makanan yang kita buat, dr Tami berkata coba berikan minimal 15-20x menu yang sama, karena anak bertahap mom dalam menerima makanan baru.

Setelah itu juga, tahap perkembangan anak usia 2-7tahun berada pada tahap pra-operasional, masih egosentris.. it's all about them.. jadi, berikan ia banyak kalimat positif seperti: "kamu mau coba?", "Kemaren Abang pernah makan kaan?" (Sambil tunjukkan foto dia menghabiskan makanannya), "waaahh hebat bisa habis 2 potong!",  "Humm ibu suka banget pisang, lembut, manis" atau " kita main makan warna yuu.. kita makan makanan yang merah yu!"

Preferensi anak akan bahan makanan juga berpengaruh dari saat di dalam rahim mom.. dr Tami bilang "Jangan milih makanan saat Hamil.." well, kalau mom memang bisa.. ini akan memberikan pengalaman untuk anak kita ketika lahir nanti.

Last but not least.. apa coba yang mesti kita lakukan saat anak menolak makanan yang kita buat? Tenang.. mom bisa makan saja dulu.. kenyangkan perut kita, syukur-syukur si kecil tertarik makan apa yang kita makan. Catatan, mom makan apa yang anak makan, mereka melihat mom menikmatinya, mengapa tidak mereka coba, bukan begitu?

Kenapa? Karena (1) ibu adalah role model makan anak, jangan sampai emosi.. anak bisa mendeteksi itu loh mom.. penelitian tentang Still Face Experiment menyebutkan itu. Anak tuh mengimitasi emosi kita. (2) masak bareng. Well.. keamanan patut diperhitungkan ya mom. (3) simpan makanan di meja, tanpa paksaan. (4) sajikan dalam porsi kecil. (5) campur makanan baru dengan makanan lama dan (6) ubah bentuk makanan.

Pertanyaan menarik dari salah satu peserta, "waktu kecil, anak saya suka makan sayur buah, tapi sekarang udah 5 th ga lagi. Udah terlambat belum sih untuk memperbaikinya?" 

dr Tami menjawab: belum terlambat kok.. kalau sudah terdeteksi yuk perbaiki bersama. Dimulai dari memaafkan diri sendiri dulu ya mom.. kemudian mulai mempraktekan tips 'n trik yang sudah dipaparkan. Tambahan Wakasek sekolahku, Bu Anna Musdalifah, mom..setting lingkungan juga berpengaruh, untuk mengubah anak dari eating habit yang tidak tepat, dibutuhkan setting lingkungan hang mendukung, seperti keluarga inti, keluarga besar, dan juga sekolah mendukung itu. Plus praktekkan juga "connectiob before correction" membetulkan sesuatu hal bukan dengan marah-marah, malah anak bakal kabur.. kondisikan kelekatan mom dengan anak.. dari situ mulai bangun eating habit. 

Sekian pemaparan tips 'n trik menu harian untuk si Picky Eater.. mana menu nya? Itu dia.. yuk asah kreatifitas kita untuk menyajikan masakan menarik, sehat, bergizi dan variatif untuk anak! Cek cek buku resep di rumah mom.. modifikasi..  sampai bertemu lagi di review kegiatan lainnya!


Comments

Popular posts from this blog

TIPS MENJAGA PERSAHABATAN DI GROUP WA

Angkat tangan yang punya minimal 10 group WA?  Lebih dari 10? Horror ga sih, ketika isi pesan yang ga kebaca melebihi 200 chat lebih, saat kita buka di pagi hari.. Terlebih saat HP kita matikan untuk dicharge. Betul. Masalah arus informasi melalui group WA ini menjadi, masalah kesehatan juga loh... Baperan, merasa di-bully (mungkin kalau orangnya yang perasa banget).. Dan terlebih.. Kadang informasi yang disampaikan bertele-tele dan tak berguna atau berita bohong (Hoax). Saya ikut beberapa group WA, diantaranya: 1. keluarga/ alumni: group arisan keluarga (udah keluar ternyata malah jadi sumber perpecahan antar keluarga), alumni bahasa Prancis 2005, group alumni SMP (udah keluar, pusing banyak hoaxnya, plus hanya dibuat saat mau reuni aja) 2. Sekolah: group guru umum, group guru khusus, group manajemen, group koordinasi, dan group kelas anakku 3. Pengembangan diri: group komunitas guru, group komunitas menulis, group kuliah angkatan 2015, angkatan 2016, ...

Parenting: Early Literacy for Kids (2)

Menulis nama Setelah postingan minggu lalu tentang literasi untuk anak . Sekarang kita kerucutkan lagi ke teknis cara berlatih menulis nama. Tulisan ini,  jawaban untuk salah satu orang tua murid yang berkonsultasi dengan saya, sebagai guru dan psikolog anak ketika Parents Teacher Meeting ( PTM ). Kasusnya, saya mengajar di level Pre-school/Nursery atau 3-4 tahun. Persiapan menuju K-1. Ibu siswa saya menanyakan apakah anaknya dapat mengikuti kelas, bagaimana di kelas, dan pertanyaan lainnya. Hingga pertanyaan tentang Time Out dan menulis nama. Mom: Miss, kok  anak saya belom bisa nulis namanya sendiri ya? Saya: Begini mom, untuk ******, memang masih menebalkan huruf saja, kami, saya dan asisten saya, selalu mengajak ****** untuk melatih menebalkan hhuruf dan mengenalkan huruf. Mom: Iya Miss, saya juga di rumah nyiapin namanya di- print, banyak, tapi kok dia ga mau ya? Psikolog: Bagaimana mommy membuat tulisannya? Seberapa besar? Mom: saya print selembar ...

Bandung Readers Festival ada lagi.... Yes

Selama sepekan di bulan Desember 2022.. akhirnya yang tinaafandi tunggu, hadir kembali, meskipun dengan format yang sedikit berbeda ya.. yes Bandung Readers Festival berkolaborasi dengan patjamerah. Awalnya kami kepoin dulu nih medsosnya pajtarmerah dan tentunya Bandung Readers Festival, yang sempat kami ikuti sebelum pandemi, tentunya.. Kami mengunjungi kegiatan ini di dua hari terkahir yaitu Sabtu dan Minggu tanggal 10-11 Desember 2022, berlangsung di Universitas Katolik Parahyangan, Ciumbuleuit Bandung. Setelah rehat selama pandemi dan di acara terakhir kami (baca suami dan saya) mengikuti Bandung Readers festival, membahas seputar blog.. tentunya dinamika nge blog ala Bandung Readers festival .. buat tinaafandi seorang language enthusiast, hal hal yang berbau literasi, buku, dan turunan-turunannya Sangat ditunggu yaa.. Satu kata untuk kegiatan tahun ini, senang. Karena akhirnya tinaafandi bisa ketemu sama penulis dan ilustrator, Puty Puar  cek aja yaaa diblog pribadinya. Nah, i...