Sunday, February 19, 2017

Education: Mahluk Menyebalkan Bernama "Anak Kecil"

Tidak pernah terpikir akan menjadi guru PGTK. Dulu saya benci yang namanya anak kecil. Rasanya, saya tiba-tiba besar saja.

Tidak pernah terbayangkan akan disalami tangan oleh murid-murid ketika kami berpapasan di pagi hari atau ketika berpisah siang harinya.

Tidak pernah terlintas akan begitu terfasilitasi kegemaran saya akan seni, cat, kuas, kertas, gunting, lem, pensil warna dan semua barang-barang untuk membuat karya seni yang tersedia. Meski hanya dipamerkan beberapa hari saja. Senangnya minta ampun.

Kisah menuju guru PAUD ini berawal dari pertemuan dengan teman kuliah di angkot. Saat itu saya sudah mengajar les part-time dan masih rajin main ke kampus, sekedar ngopi dan melamun di halaman depan gedung ISOLA.

Kira-kira begini percakapan waktu itu.
Saya: hei!
Wika: hei, mau ke mana?
Saya: ke kampus ketemu temen.
Wika: oh.. Udah kerja?
Saya: udah.
Wika: dimana dan bla bla bla

Akhirnya...

Wika: sekolahku lagi buka lowongan, mau coba?
Saya: dimana? Ngajar apa?
Wika: ngajar anak playgroup. Coba aja. Ini alamatnya.
Saya: oh G****?
Wika: iya, tapi buat K*******nya sih. Gmn?
Saya: boleh lah.


Meski miskin pentahuan tentang anak. Lebih tepatnya benci anak-anak. Lalu saya coba saja. Awal-awal masuk kerja sebagai fresh graduate yang ga punya pengalaman ya,, apa lagi sih yang dinilai selain kemampuan bahasa inggris lisan yang cukupan, keterampilan ngajar saat micro teaching, wawancara kemudian diospek. Iya sebelun tanda tangan kontrak kerja, saya diundang untuk masuk ke kelas yang sudah berjalan dan mulai interaksi dengan anak-anak, mengajak mereka bermain, mengobrol.

Anak-anak itu menyebalkan. Jika ingin mainan, nangis. Ingin pipis tapi belum bisa ke toilet sendiri nangis. Hobinya jambak-jambak rambut. M.E.N.Y.E.B.A.L,K,A,N maunya menang sendiri, Dia pikir dialah pusat perhatian, semuannya adalah miliknya. Mainan A punya dia, perosotan punya dia. Semua milik dia. Sampai satu sekolahpun itu miliknya. Egois.

Tapi setelah lebih dekat mengenal mereka. Keseharian mereka. Kepolosan dan kemampuan kecil yang tiba-tiba muncul ditengah term (istilah pembuatan laporan per 3 bulan sekali), sukses membuat saya jatuh cinta dengan dunia anak. Mereka memang kertas putih yang bisa kita (orang dewasa) gambari dan taruh warna apa saja. Tangisan dan amarah mereka adalah bentuk komunikasi, jauh sebelum mereka berbahasa. Jambakan, cakaran dan tendangan mereka adalah wujud keingintahuan yang besar akan aksi-reaksi. Kemampuan yang kita (orang dewasa) pikir, gampang, ternyata sulit loh untuk mereka pelajari, seperti pipis di toilet, mencuci tangan, makan sendiri dan menyikat gigi. Mereka butuh kita untuk mengajarkannya.

Rasa benci ini semakin hilang dan pudar ketika, saya diingatkan kembali dengan berbagai teori tumbuh kembang anak, kemampuan majemuk dan seabrek teori-teori yang secara jelas nyata jika saya gunakan kepada murid saya, maka akan terlihat perbedaan pada anak, nantinyan. Anak kecil akan selalu menyebalkan. Begitulah mereka hingga kita tahu kunci untuk menaklukannya.

Yuk simak postingan selanjutnya tentang anak-anak!

Sunday, February 12, 2017

Parenting: Early Literacy for Kids (2)

Menulis nama

Setelah postingan minggu lalu tentang literasi untuk anak. Sekarang kita kerucutkan lagi ke teknis cara berlatih menulis nama. Tulisan ini,  jawaban untuk salah satu orang tua murid yang berkonsultasi dengan saya, sebagai guru dan psikolog anak ketika Parents Teacher Meeting (PTM). Kasusnya, saya mengajar di level Pre-school/Nursery atau 3-4 tahun. Persiapan menuju K-1. Ibu siswa saya menanyakan apakah anaknya dapat mengikuti kelas, bagaimana di kelas, dan pertanyaan lainnya. Hingga pertanyaan tentang Time Out dan menulis nama.
Mom: Miss, kok  anak saya belom bisa nulis namanya sendiri ya?
Saya: Begini mom, untuk ******, memang masih menebalkan huruf saja, kami, saya dan asisten saya, selalu mengajak ****** untuk melatih menebalkan hhuruf dan mengenalkan huruf.
Mom: Iya Miss, saya juga di rumah nyiapin namanya di-print, banyak, tapi kok dia ga mau ya?
Psikolog: Bagaimana mommy membuat tulisannya? Seberapa besar?
Mom: saya print selembar itu banyak namanya. Tetep ga mau.
Psikolog: Kemungkinan tulisan yang dibuat mommy terlalu kecil, jadi anak malas melakukannya.

Setelah pertemuan itu, saya kemudian Googling, seperti yang selalu dilakukan siapapun ketika memiliki pertanyaan dan ga tahu harus nanya ke siapa. Akhirnya saya menemukan refererensi kegiatan menyenangkan, sesuai usia anak dan DIY project juga. Yuk simak bagaimana cara membuatnya, memperkenalkan kepada anak dengan cara yang menyenangkan dan sesuai umur mereka. Voila!

1.       One Full Page Activity
Kebetulan si sulung  belum mulai mengerjakan kegiatan ini, saya berencana mengajak si sulung melakukannya ketika masuk K-1 atau TK A nanti. Karena, kemampuan motorik kasar si sulung belum matang, jadi tidak saya paksakan untuk mulai ke motorik halus salh satunya memegang pensil, kecuali dia yang memintanya sendiri, seperti mewarnai dan menggambar.
Setelah penelusuran-penelusuran random, ditemukanlah ide ini di salah satu situs favorit saya, pinterest. Ini dia kegiatan satu halaman penuh untuk menulis nama.
  


Sumber: Pinterest


2.       Customize Nametag
Saat itu saya uji coba di kelas, dengan menyiapkan nama masing-masing anak yang dicetak kemudian dilaminating, sehingga anak bisa menebalkan kemudian menghapusnya. Setelah beberapa kali pertemuan anak mulai menebalkan huruf yang lebih kecil, hingga ke ukuran sesungguhnya. Cara pembuatannya ada dua: satu bisa melalui situs online (sumber) dan unduh font Dotted Letters.



Sumber: Dokumen penulis

Kegiatannya, setelah anak diperkenalkan huruf-huruf namanya, anak diajak untuk menebalkan. Biasanya saya akan memberian reward berupa bintang kecil di sebelah namanya. Mereka biasanya senang dan semangat untuk mengerjakannya di lain waktu. Yuk, boleh coba di rumah.. Jangan lupa share ya!


Nantikan kegiatan menarik lainnya!

Sunday, February 5, 2017

Parenting: Early Literacy for Kids


Apa sih, sepertinya kata-kata literasi ini sering sekali terdengar baik di dunia pendidikan formal maupun non-formal. Bagaimanakah praktek literasi awal yang bisa kita kenalkan ke anak kita di rumah?
Awal tahun ajaran 2016-2017 kemarin, selain Kurikulum 2013 yang digunakan di sekolah, ada juga program literasi yang harus diperkenalkan kepada anak. Program literasi ini, salah satu upaya untuk menumbuhkan rasa cinta anak untuk membaca buku. Maka dari itu, kita memulai dari hal yang paling kecil, yaitu membacakan buku kepada anak, seraya memperlihatkan tulisan, meskipun anak belum tentu sudah bisa membaca, namun guru menunjukkan setiap kata yang terucap dengan tulisan yang ada.
Dalam dunia kebahasaaan, satu kata memiliki unit terkecil yaitu huruf. Nah ini dia, cikal bakal kemampuan membaca anak dimulai. Tapi bagaimana sih, cara mengajarkannya?
Early literacy theory emphasizes the more natural unfolding of skills through the enjoyment of books, the importance of positive interactions between young children and adults, and the critical role of literacy-rich experiences. We can see that the first three years of exploring and playing with books, singing nursery rhymes, listening to stories, recognizing words, and scribbling are truly the building blocks for language and literacy development. sumber

Hai semuanya sudah siap dengan tips and trik mengajarkan nama kepada anak usia dini? Tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mengenalkan kegiatan ini pada anak, yaitu sebagai berikut:
Usia
Untuk mengenal nama secara tertulis, anak bisa diajarkan mulai dari 2 tahun, ketika anak sudah mengenal diri sendiri, keluarga dan lingkungannya. Anak usia dua tahun sudah masuk pra-sekolah atau biasa disebut Anak Usia Dini. Anak usia dua tahun, keterampilan berbahasanya sudah mulai berkembang. Selain bahasa ibu yang sudah ajeg, anak mulai tertarik dengan bahasa lainnya. Waktu yang tepat untuk ayah bunda mulai mengenalkan pula bahasa lain.
Anak usia 3 tahun memasuki tahapan mandiri,mengajarkan nama anak merupakan kegiatan yang aktif. Seperti melompat, mencari, menyusun.
Anak usia 4 tahun sudah mulai bisa menebalkan garis, pada usia ini anak sudah memiliki keingintahuan yang lebih besar. Kemampuan motorik halusnya pun sudah mulai terbentuk
Motorik kasar
Salah satu kegiatan yang harus banyak dikerjakan oleh anak usia dini adalah bereksplorasi dengan tubuhnya. Banyak bergerak dengan instruksi yang jelas merupakan kegiatan yang mendukung kesiapan anak kelak ketika memasuki sekolah. Sementara di umur 2-4 tahun, ajaklah mereka bermain sambil belajar. Melompat dari satu gambar ke gambar yang lain, mencari benda yang disembunyikan dan berlari merupakan kegiatan yang menyenangkan.
Motorik halus

Di usia 2-4 tahun, kegiatan motorik halus, difokuskan kepada eksplorasi bahan, menempel dan menyusun. Ini adalah kegiat simulasi motorik halus, untuk nantinya digunakan sebagai kemampuan anak menulis, menggambar dan life  skills (mengikat tali sepatu, mengenakan pakaian, makan, dan mengarjakan hal kemandirian lainnya)
Kegiatan ini bisa lohh dijadikan alternatif kegiatan anak kalau sedang hujan di rumah, bahan-bahannya pun bisa diambil langsung dari dapur dan dari meja kerja ayah bunda tentunya. Voila, ini dia..
1.       Koran
2.       Teh
3.       Kopi
4.       Biji jagung
5.       Kertas origami/kertas bekas
6.       Lem fox
7.       Print out huruf, A4 untuk dua huruf warna merah
8.       Print out huruf , A4 untuk dua huruf untuk dijadikan kegiatan motorik halus

Kegiatan pertama
Ajak anak untuk memperhatikan kartu huruf yang kita bawa, ajak mereka mengulangi huruf yang ada pada nama mereka satu per satu. Contoh: S, E, K, A, R.

Kegiatan Kedua
Susun kartu huruf tadi di lantai, ajak anak untuk melompat dari satu huruf ke huruf lain dengan menyebutkannya terlebih dahulu, berikan selalu reward berupa hi-five atau atau kata-kata pujian seperti “bagus, Nak, yuk coba lahgi”, “Benar sekali, ini huruf S”, dsb

Kegiatan ketiga

Siapkan kertas huruf yang tinggal diisi oleh bahan-bahan yang disiapkan tadi, ajak anak berkeskplorasi dengan lem, koran, teh, kopi, biji jagung dan origami. Ajak anak untuk menyobek koran, mengambil lem adan menyebarkannya ke seluruh bagian huruf lalu, anak mulai membuat kolase seuai dengan bahan yang mereka sukai terlebih dahulu



 Terimakasih sudah membaca, dicoba dan share ya...nantikan permainan lainnya, ayah bunda!

Wednesday, January 4, 2017

Work-Eat-Repeat

Sudah berapa kalikah kamu pindah tempat kerja?

Apa sih yang membuat kangen dari tempat sebelumnya selain temen kerja?

M.a.k.a.n.a.n

Dalam kamus Pena Tina hanya dua jenis makanan, yang enak dan enaaaak banget. Saat kerja pasti ada makanan favorit yang ada deket tempat kerja dong.. Yuk kota simak 3 makanan yang pernah berlabuh dhati Pena Tina, voila!

Cuanki Gymbo

Ok, 3 tahun mengajar di Gymboree-Kidsville Play School, Jl. Karang Sari, ada mamang cuanki yang sudah melegenda, sampai buka cabang. Sederhana aja sih, si cuanki bisa dinikmati ketika kurang berselera dengan masakan makan siang kantor dan pengen ngemil saat hujan. Perpaduan antara siomay, tahu dan baso plus kuah hangat asam manis pedas. Pokoknya mantap.

Apalagi cuaca dan suasana jl Karang Sari itu sepoi-sepoi, banyak pohonnya, pas banget. Jadi kepingin. Harganya dulu sih 5.000 aja. Uhm, berapa ya sekarang? Kuliner ah..

Mie Jawa Sukahaji

Satu tahun di Apple tree Preschool and Kindergarten, Pena Tina kenalan sama mie jawa, dicampur daging ayam, sayuran, plus yang paling pol itu adalah acar rawit-timunnya.. Seger. Harganya lumayan sih sekitar 20.000, belinya kalo lagi ingin banget. Masaknya di atas tungku, semakin menambah cita rasa yang otentik. Ntap!

Kadang Pena Tina sengaja makan di tempat supaya bisa nambah acarnya lagi. Semoga mas-masnya ga baca. Hahhaha

Warung Nasi Bu Imas

Hampir mau dua tahun di Daycare-PG-TK Assalaam, banyak cemilan, minuman, sampai makanan berat sekitar jalan Balong Gede. Surgawi banget, buat yang hobi jajan. Dulu sih, ke Bu Imas pulang jadi tour leader, jaman mahasiswa.. Yang harganya udah lumayan tinggi buat ukuran mahasiswa.. Nagih banget nih. Untuk makan di warung nasi Bu Imas. Mulai ayam goreng, ayam bakar, ikan, cumi, udang, pepes-pepesan, Pete, jengkol, lengkap banget. Yang paling kece diantara semuanya ya... Karedoknya dong.. Sederhana banget rasanya. Seperti karedo buatan mamah. Sangat di rekomendasikan.

Siapa di sini yang suka kuliner, wajib coba, sambil hunting sekolah juga boleh.. (Lho)

Selamat kuliner!

Monday, December 12, 2016

Busui Ngantor Penjuan ASI Eksklusif

Hai Ayah Bunda, Mom Dad, Emak Bapak..

Masih semangat perah memerah?
Masih semangat ganti popok si bayik?
Masih kuat bergadang?

Pastinya 3 kegiatan tiap punya dedek bayi lagi ya ini nih.. Tapi saya juga punya 3 hal yang mengejutkan saat berjuang ngasih ASI Eksklusif si bungsu. Kali ini saya mau share tentang ng-ASIP si Aang Jalu. Yuk simak ceritanya!

Baca: http://tinaafandi.blogspot.co.id/2016/09/preggo-land-big-day.html?m=1

Hari ini si Aang genap 3 bulan. Emaknya sudah mulai ngajar lagi, sebelum hari pertama masuk sekolah lagi, saya sudah nyetok ASIP di freezer. Hanya memang saya susunya cukupan aja, ga banyak banget. Alhamdulillah cukup. Jadi, fix jika si baby ditinggal saya selalu bawa tas perah.

Baca: http://tinaafandi.blogspot.co.id/2016/11/motherhood-busui-starter-pack.html?m=1

Busui ngantor pejuang ASI eksklusif, seperti saya, hihi... Harus menyemangati diri sendiri, memang harus semangat..!!

Setiap dua jam sekali pasti dapet panggilan produksi ASI. Harus langsung Cari tempat persembunyian, pada kasus sekolah saya, kamar anak fullday jadi sarang perah. Kalo sedang diisi anak tidur.. Pindah ke sarang lainnya.. Cek CCTV ya moms.. Khawatir lagi perah eh, kerekam. Kan ga lucu.

Saat berjuang, Ng-ASIP, ada 3 hal yang saya agak kaget saat mengalaminya. Apa Saja ya? Voila!

KB Alami
Ketika kontrol bulanan ke Bu Bidan untuk imunisasi si Aang, saya sambil konsultasi (agak ke curhat sihh), kenapa kok saya ga mens pasca lahiran.

Saya : "Bu, saya sudah pasang IUD saat 40 hari setelah lahiran, tapi kok masih belum mens?"
Bu Bidan : "Ibu ngasih ASI Eksklusif?"
Saya: "Iya"
Bu bidan : "Oh, ga papa bu, memberikan ASI eksklusif itu bisa jadi KB Alami, ada kok yang sampai satu tahun tidak mens"
Saya: "Oh gitu ya bu.. Saya  sempet khawatir. Kenapa sih bu bisa jadi KB Alami?"
Bu bidan: "Jadi hormon progesteron berkurang diganti dengan hormon menyusui."

Lesson learnt, ng-ASIP, mengulur waktu si Aang dapet dedek lagi.. Plus, jaga-jaga pasang KB supaya bisa ngontrol kelahiran. Mungkin 5 tahun lagi.. Huhuhu..

Arti Reuse
Sempet saya ngambil cepetnya aja, beli plastik wadah ASIP, ternyata saya cuma menambah sampah Rumah tangga, akhirnya saya beli botol ASIP, hanya 20 botol saja. Satu harinya 5-6 botol ASI terisi. .

Jadinya, ada alesan untuk reuse botol-botol ASIP tadi. Yeah.. Zero waste.
(Cuci, lap, simpen tiap hari)

Clean Eating Dan Booster
Dari sebelum, saat dan setelah Hamil, saya berusaha untuk makan makanan sehat (sayur dan buah, harus ada setiap hari) semoga produksi ASI lancar. Selain Itu juga saya mencoba teh ASI Booster.

Yucky.
Smelly.

Tapi, berhasil untuk kasus saya. Takarannya satu sendok teh, dua sendok gula dan tiga gelas air dididihkan, untuk diminum 3 kali sehari.

Perjuangan busui ngantor ngak sebatas menyiapkan ASIP untuk si dedek bayi, juga perjuangan lainnya..

Yuk simak lagi cerita-cerita perjuangan lainnya.

Eh, Emak, mamih, Bunda, IBU, ambu.. Share dong perjuangan Ng-ASIPnya..

#SalamMemerah
#SalamNyetok

Thursday, December 1, 2016

Parenting: Pendidikan humanis dari sudut pandang orang tua

Hai mommy, emak, mimi, bunda, ambu, ummi, ibu dan mamah kece! Salam semangat mengurus jagoan-jagoannya ya!

Kali ini Pena Tina mau ngobrol tentang pendidikan humanis. Apa sih pendidikan humanis itu? Tidak secara teori ya.. (Bisa googling  sendiri) tapi pendidikan humanis dari sudut pandang orang tua.

Saat mengajar les baca dan ngobrol setelahnya dengan orang tua murid tentang mencari sekolah. Saya banyak belajar. Sebagai guru dan orang tua dari dua anak usia belum sekolah, saya harus mulai mapping, anak saya mau disekolahkan dimana. Sekolah seperti apa sih yang cocok dengan visi misi kita?

Apa kurikulum yang dipakai? Bagaimana metode pembelajarannya? Bagaimana dengan guru-guru yang mengajarnya? Bagaimana karakter anak nantinya?

Setuju ga sih, kalau sekolah yang bagus itu yang mekankan ke pendidikan karakter anak. Pendidikan yang humanis. Pendidikan yang tidak menekankan pada kemampuan kognitif saja. Tetapi pendidikan yang juga mengasah kemampuan sosial dan emosional anak dan dalam opini terdalam saya adalah kecakapan hidup.

Orang tua jaman sekarang rajin melakukan riset pribadi tentang sekolah idaman untuk anak-anaknya. Dari kacamata orang tua, sekolah itu, mitra pendidikan anak dan pengganti peran orang tua ketika langkah pertama anak masuk gerbang sekolah di pagi hari sampai anak keluar sekolah siang atau sore hari.

Dari segi kurikulum,  selalu setiap sekolah akan meracik kurikulum yang terbaik secara versinya. Setiap sekolah memiliki keunggulan dan kekurangan. Inilah pekerjaan rumah abadi setiap sekolah setiap tahunnya.

Ini buka tuntutan ya, lebih ke harapan aja.. Yu simak apa saja indikator pendidikan humanis dari sudut pandang orang tua.

Easy to mingle with everyone

Kita seneng dong, kalau anak kita supel, gampang bergaul, ga malu-malu, tapi juga tetap bisa mengontrol diri. Karena ketika ia bisa banyak kenal karakter dan perbedaan setiap orang, dia akan mampu menempatkan dirinya dalam pergaulan. Banyak temen, banyak rezeki.

Problem solver

Harus. Setiap anak harus dibekali kemampuan ini. Mengajak mereka berpikir tentang dirinya dan orang pain lalu berusaha untuk memecahkan masalah akan membuat ia percaya diri kelak.

Creative thinker

Karena usaha/proses lebih penting Dari hasil. Ketika anak mencoba banyak hal, dengan sedikit bimbingan dan pengawasan orang tua, ia akan belajar banyak dan berilah ruang untuk anak berkarya, sesuai minatnya. Penting!

Be independent

Ini yang paling penting, pendidikan humanis adalah usaha memanusiakan manusia dari pemenuhan kebutuhan dasarnya. Setiap anak harus bisa melakukan kebutuhan hidupnya sendiri: makan, minum, sanitasi sampai menjaga kebersihan badan dan lingkungan. Termasuk cuci tangan sebelum makan, membersihkan alas makan  dan menyapu.

Voila.. Ibu-ibu kece, share juga dong pendpatnya!

Thursday, November 24, 2016

Education: Kenapa Guru



Salah satu pemantik saya tertarik untuk menjadi seorang guru adalah guru saya di SMA. Ketika ada pelatihan di sekolah kemarin mengenai pembuatan Anecdotal Record yang pembicaranya adalah koordinator kurikulum PG dan TK Gagas Ceria, saya diingatkan kembali masa-masa saya belajar di TK dulu, apa yang paling saya ingat. Agak nyeleneh sih.. saya ingat bau tubuh guru saya, bu neneng, saat beliau membantu saya membuat prakarya warna  yang ditiup oleh sedotan sehingga membuat warna-warna tercampur di atas kertas. Beliau memegang tangan saya, mengajak saya mengerjakannya  dengan santun dan lembut. Kemudian, ditanya kembali guru mata pelajaran apa yang saya paling ingat.

Bahasa Inggris.

Tentunya.

Saya masih hafal, bu Rofina, berkerudung, mengenakan kacamata ber-frame tebal, kulit putih dan lipstik merah yang selalu ia pakai adalah guru bahasa Inggris kami di kelas 2 SMA. Beliau mengajar seperti guru-guru lainnya. Hanya saja, beliau menyempatkan untuk menambah jam setelah pulang sekolah. Kami boleh membawa bekal dari rumah, makan bersama sambil belajar bahasa Inggris. Satu hal yang saya paling ingat tentang beliau, yaitu ketika beliau menceritakan mengenai pengalamannya dapat beasiswa ke Selandia Baru. Beliau menceritakan apa yang beliau kerjakan, saya masih ingat beliau menceritakan mengenai cara pemerahan susu sapi di sana yang sudah modern, saya tertarik sekali dengan cerita-cerita beliau. Ternyata bukan bahasa Inggrisnya yang saya pelajari dari beliau tapi motivasi kenapa kita harus bisa berbicara bahasa inggris yang paling penting. (baca:kali aja dapet beasiswa ke luar negeri).

Sedikit demi sedikit, atau mungkin banyak dari sifat dan motivasi ini yang membentuk saya sekarang. Karena kita saling mempengaruhi. Saya memutuskan menjadi guru, ketika saya bekerja menjadi buruh pabrik sehabis lulus SMA. Meradang.

Saya berpikir, pekerjaan mulia yang bukan hanya tenaga saja yang kita pakai, tapi juga otak kita, ya guru. Saya suka ngomong, ya saya suka bahasa Inggris (meskipun memang belajar sepanjang hayat itu berlaku, saya pun masih belajar dan akan terus belajar) lalu, kelak saya akan jadi ibu rumah tangga, saya membayangkan, pekerjaan yang dapat saya lakukan, dengan tetap bisa mengurus keluarga, ya menjadi guru.

Voila, ilmu kependidikan saya dapatkan dari almamater Universitas Pendidikan Indonesia. Sementara tehnik mengajar saya dapat hasil Trial error ngajar all level, karena kata bang Yoris Sebastian generasi saya adalah generasi yang suka mencoba hal yang baru. Ini sepenuhnya saya manfaatkan untuk memoles tehnik mengajar saya.  Dengan mencoba mengajar di sekolah dengan berbagai macam kurikulum dan PG-TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Umum (salah satunya mengajar IRT yang suaminya ekspat Prancis).

Singkatnya. Saya selalu percaya bahwa “MENGAJAR BERARTI BELAJAR” ketika seseorang memutuskan untuk menjadi guru, berarti dia harus berkomitmen dengan kontrak seumur hidup, untuk selalu belajar.
Selamat Hari Guru!
Selamat Mengajar!

Selamat Belajar!