Saturday, April 8, 2017

Education: TIPS KETIKA MEMUTUSKAN UNTUK BERPROFESI SEBAGAI GURU

Berhubung sebentar lagi akan menjelang akhir tahun ajaran. Voila tulisan kali ini, sharing tips ketika memutuskan untuk berprofesi sebagai guru. Selamat membaca!

Saya selalu pro dengan yang namanya perubahan dan kemajuan. Satu sekolah dikatakan  sekolah unggulan ketika komponen-komponen pendukungnya saling bersinergi membangun dan menghadirkan program-program dan layanan yang prima. Salah satu indikator kemajuan sekolah adalah gurunya.

Betapa tidak ketika guru memiliki kesadaran penuh bahwa dirinya harus selalu berusaha untuk memperbaiki diri, belajar hal baru dan juga terbuka terhadap perubahan yang ada, disitulah letak keunggulan pribadi seorang guru. Kegiatan rutin mengajar dengan level yang sama dan RPP yang sama setiap tahunnya, menjadi salah satu pemicu zona aman guru.

Pengalaman saya mengajar 5 tahun di PG TK, Saya selalu berusaha ada pembaharuan di setiap tahunnya, ada target yang ingin dicapai, baik dalam skala kurikulum, manajemen kelas, output anak ataupun tahapan pembelajarannya. Pun penggunaan media pembelajaran, metode pembelajaran dan juga evaluasi pembelajaran selalu mengalami perubahan untuk tema yang dirasa kurang menarik atau harus ditambah ini itu.

Komitmen diri
Ketika kita sudah mengajar pada level yang sama dalam kurun waktu minimal 3 tahun, setuju tidak sih, kita mendambakan kelas, murid dan ortu yang seperti ini dan itu. Jelas normal. Ketika kita bertemu dengan kelas baru di tahun ajaran yang baru, kita akan menghadapi berbagai macan tipe anak  ketika di kelas. Pasti kita punya memiliki keinginan untuk membentuk anak didik kita seperti apa. Jangan membicarakan kurikulum yang kita pakai ya.. itu sih sudah jelas harus tersampaikan. Tapi, keinginan pribadi ketika membentuk anak didik kita kelak.. contohnya: ingin anak didik kita lebih percaya diri, jika mayoritas dari mereka masih malu-malu, atau  ingin anak kita lebih mandiri, jika mayoritas dari mereka masih tergantung kepada orang dewasa. Setiap guru memiliki data khusus setiap anak, catatan perkembangannya dan juga harapan orang tua. Komitmen diri  berarti siap dengan strategi-strategi untuk mencapai keinginan kita tersebut.

Kreativitas
Seorang guru dituntut juga untuk dapat mengalirkan ilmu pengetahuan kepada anak dengan cara yang semenarik mungkin. Saya senang bereksperimen dengan media pembelajaran. Ketika kita menggunakan media pembelajaran yang beragam, maka proses pembelajaran lebih variatif dan tidak mudah ditebak oleh murid. Media pembelajaran ini bisa menggunakan banyak sumber dan bentuknya. Zona nyaman seorang guru adalah ketika metode dan media pembelajarannya itu-itu aja, mudah ditebak dan tidak menarik. Terkadang guru juga buntu untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam  media pembelajaran. Terlalu malas untuk mencari data dan sumber pembuatan media pembelajaran. Dibutuhkan suatu wadah untuk memfasilitasi guru-guru dalam berbagi kreativitas dalam pemuatan media pembelajaran, sepertimya. Iya ga sih?

Evaluasi diri
Menyoal evaluasi diri, ketika guru dinilai kinerjanya sesuai dengan apa yang telah ia lakukan. Mulai dari penampilan, kreativitas dalam pembuatan RPPM, Tehnik mengajar, Administrasi kelas dan hubungan antara guru-ortu, guru-guru dan guru-murid bisa dinilai dan menjadi inidikator apakah guru tersebut layak mendapat peringkat sebagai guru yang baik, kurang baik atau bahkan, guru yang excellent.


Tidak ada seorangpun yang sehandal diri kita, dalam mengkritisi dan mengubah langkah kedepan. Sekian tips ala ala Miss Tina. Bagaimana dengan guru-guru di luar sana? Sama kah? Sharing ide sangat terbuka lho.. Terimakasih.

Saturday, March 11, 2017

Motherhood: MP-ASI untuk si Aang Jalu

Tidak terasa, sekarang si bayi sudah akan memasuki bulan ke-enam. Yeay! Alhamdulillah, seperti tetehnya dulu, si dede juga harus campur ASInya dengan Sufor. Ketika mamahnya mengajar, dede minum susu formula saja, mamah pulang, dede lanjut minum ASI. Produksi ASI saya alhamdulillah, 3-4 botol 75ml per harinya, sementara si dede membutuhkan 4-5 botol 100ml per hari ditinggal, tekor ya.. it’s okay, dede, mom did her best, we should be greatful for it!

Saat hamil, lahiran anak  kedua, kemudian  mengurusnya hingga 2 bulan di rumah saat masa cuti dan ditinggal mengajar kok, santai banget. Sakit sedikit, tidak seheboh tetehnya, kalem banget menjalani keseharian dengan si dede. Saat pagi dan sore hari pun, kami, saya, teteh, suami dan dede bisa melewati quality time kami, sekedar mengajak  bermain si dede, ngobrol atau melihat tetehnya yang dengan berbagai cara mengajak dedenya bemain dan mulai mengatur dedenya.

Suatu sore, saat dede menyusu dan gusinya gatal karena mau tumbuh gigi. Si teteh ngobrol sama dede.

Sekar: Dede, kalo nenen jangan gigit-gigit nenen mamah ya! kasian, sakit.
Saya: ....  (senang, terharu dan mulai berpikir, saya segitunya yaa kalau ngomong, waduh)

Makanan pertama si dede, sepertinya akan jatuh kepada buah favorit keluarga kecil kami. Pisang. Yes, si teteh bisa habis 3-4 pisang sehari loh.. bapaknya? Sama. Pakai susu oke, dimakan begitu saja, ayo. Wihh.. dapat ide, top 5 makanan favorit keluarga Afandi. Nantikan reviewnya ya!

Oke kembali lagi ke MP-ASI Aang, selain pisang, pilihan kedua adalah kentang. Kentang dikukus dan dihaluskan lalu dicampur ASI atau sufor. Pilihan ketiga jatuh ke buah kukus: Apel. Rasanya yang lembut cocok untuk si dede yang baru mengenal makanan. Pilihan keempat adalah sayur kukus dan dihaluskan: wortel. Kemudian yang terakhir adalah kue khusus bayi yang bisa jadi finger food dan juga bisa dilumerkan pakai air. Wahhh.. saya menghindari MP-ASI instant, tapi untuk jaga-jaga, kehabisan ide, boleh lah kita nyetok.
Setelah mencari tahu diberbagai sumber, ini dia bahan-bahan untuk memebuat MP-ASI, nanti. Semoga Rajin!
Sumber karbohidrat: 
beras putih, beras merah, kentang, jagung, ubi jalar kuning/merah, ubi jalar ungu, labu kuning, sukun dan arrowroot (tepung garut).
Sumber vitamin, mineral dan serat: 
avokad, pisang ambon, pepaya, melon, apel merah, pir hijau, wortel, bayam erah, bayam hijau, daun katuk, daun labu, tauge, brokoli, kembang kol, labu air, jamur, zukini dan bit. 
Sumber protein: 
kacang hijau, kacang kedelai. 

Tuesday, February 28, 2017

Education: Perbanding S1 PG PAUD Kelas Karyawan di Bandung

It’s time to learn more abilities!
Setelah lima tahun memutuskan untuk  berkecimpung di dunia anak usia dini, akhirnya saya harus kembali ke kampus. Menimba ilmu Pendidikan Guru Anak Usia Dini. Bulan Pebruari ini, saya melakukan kunjungan ke dua kampus dekat sekolah yang menyediakan kelas karyawan PG PAUD. Karena sebelumnya saya sudah menempuh strata 1 di FPBS (Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni), yaitu Pendidikan Bahasa Prancis, sekarang saya akan masuk ke FIP (Fakkultas Ilmu Pendidikan), mengambil Pendidikan Guru PAUD.

Ada dua kampus yang saya datangi, satu yaitu UNINUS atau Universitas Islam Nusantara yang berada di Jalan Soekarno-Hatta no 530. Dari sekolah ke kampus, sekitar 30 menit. Dekat Carrefour Samsat. Itu loh, perempatan yang lampu merahnya lumayan lama. Jika dari arah sekolah menuju kampus, enaknya belok kanan menuju pasar kordon dan melewati jalan belakang kampus. Jika terus lurus harus berbelok dengan resiko melewat lajur jalan tengah yang mobil/motornya ngebut.  Kampus yang kedua adalah STAIM BANDUNG atau Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah Bandung yang berada di jalan K.H. Ahmad Dahlan (Banteng Dalam) no 6 Bandung. Dari sekolah dekat sekali, sekitar 15 menit sudah sampai.



Setelah menimbang dan membayangkan seperti apa kedepannya, voila, inilah perbandingan kecil-kecilan a la Tina Afandi:
Perbandingan
PGPAUD UNINUS
PIAUD STAIM
Jam Kuliah
Kamis-jumat
Jam: 13:00-18:00
Sabtu
Jam: 07:00-18:00
Jumat
Jam: 13:00-18:00
Sabtu
Jam: 07:00-18:00
Mata Kuliah Konversi
9 Mata Kuliah
(20 sks)
5 Mata Kuliah
(10 sks)
Sisa Semester yang harus diambil
6-7 semester
(setiap semesternya bisa mengambil mata kuliah tambahan, jika mampu)
9 semester
(paket per semester sudah fix)
Muatan Kuliah
Lebih khusus dan mendalam mengenai Pendidikan PAUD
Lebih Khusus ke PAUD Islam karena bekerjasama dengan IGRA, muatan ke-Islam-annya lebih banyak
Biaya
Semester 1: Sekitar 5jt
Semester selanjutnya: Sekitar 4 jt
Semester 1: Sekitar 3 jt
Semester selanjutnya: Sekitar 1,5 jt
Akreditasi
Sudah
Masih Dalam Proses

Di kedua kampus, jadwal kuliahnya, enak sih, pas. Waktu kuliahnya per semesternya lebih banyak di STAIM dibandingkan di UNINUS. Kedua, Mata kuliah konversi lebih banyak di UNINUS dibandingkan di STAIM, hampir mata kuliah satu semester tidak usah diambil lagi, tinggal melanjutkan ke mata kuliah yang lain. Selain itu di UNINUS bisa mengambil mata kuliah lain diluar mata kuliah per semesternya, asalkan sanggup. Dari muatan mata kuliahnya, UNINUS lebih khusus ke AUD, sementara di STAIM banyak ke muatan ke-Islam-annya. Dari pembiayaan, selisih 8jt hingga selesai, jika lancar ya.. ini  nih yang harus dipertimbangkan, sebagai ibu rumah tangga, agar pembiayaan kuliah tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari. Insya Allah, ada niat ada rezeki. Amin. Di kedua kampus, kita bisa mencicil biaya kuliah setiap bulan. Cocok banget untuk ibu rumah tangga kaya saya. Yang terakhir, akreditasi, penting banget, karena, biar aman dan nyaman, kuliah kita.
Setelah membandingkan kedua kampus ini, menurut saya, kalau ingin biaya ringan, tempat dekat enaknya pilih STAIM , tapi kalau ingin cepat selesai dan khusus keilmuannya mengenai AUD ya di UNINUS. Sudah diputuskan akan mengambil UNINUS saja dengan pertimbangan yang telah dijelaskan di atas.


Semangat belajar!

Saturday, February 25, 2017

Parenting: Early Literacy for Kids (3)

Kesulitan Membaca

Setelah selesai satu sesi mengajar Bahasa Inggris di kelas, tentang Phonics huruf Pp-Tt, dengan menggunakan metode memory games melalui kartu bergambar, drill dan permainan. Kemudian diakhiri dengan kegiatan menebalkan dan menempelkan huruf P sampai T pada masing-masing gambar, muncullah pertanyaan dari salah satu anak.

"Miss ini teh huruf apa?"

Oh, saya menjelaskan singkat sama si anak.

Ternyata tetap belum mengerti. Kemudian guru kelas datang menghampiri dan mendampingi anak tersebut dengan sabar. Si guru mengajak anak tersebut mengingat kembali huruf-huruf yang dimaksud oleh saya. Dua hingga tiga kali menjelaskan dan memberikan contoh, Akhirnya, anak tersebut menyelesaikan tugasnya.

Muncul pertanyaan dalam benak saya, bukannya di kelas TK A sudah diperkenalkan dengan simbol-simbol huruf, kok masih belum tahu hurufnya apa? Oh mungkin belum mengerti. Atau metode pembelajaran yang saya terapkan kurang menarik dan dimengerti anak? Atau saya menetapkan capaian pembelajaran yang terlalu tinggi? sebagai seorang guru yang membuat, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran selama satu tahun, saya tak hentinya bertanya.

Siang harinya, saya ngobrol dengan guru kelas tadi, ternyata anak tersebut memiliki kesulitan dalam membaca. Lebih tepatnya dyslexia. Setelah membaca salah satu penelitian tentang kemampuan membaca anak, berikut kutipannya:

Dalam mengajarkan membaca harus memperhatikan aspek-aspek perkembangan anak. Menurut Ahmad Rofi’uddin (1998:50) pengajaran membaca diarahkan pada aspek-aspek:
(1) Pengembangan aspek sosial anak, yaitu : kemampuan bekerja sama,  percaya diri, pengendalan diri, kestabilan emosi, dan rasa tanggung jawab.
(2) Pengembangan fisik, yaitu pengaturan gerak motorik, koordinasi gerak  mata dan tangan.
(3) Perkembangan kognitif, yaitu membedakan bunyi, huruf, menghubungkan  kata dan makna. (sumber)


Pada poin ketiga tentang perkembangan kognitif, ketika membedakan bunyi dan huruf maka ada bagian otak yang bekerja. Sebelum sampai ke sana, mari kita telusuri dulu. Apa sih dyslexia itu? Salah satu faktor kesulitan membaca adalah disleksia. (sumber)

Dyslexia adalah sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat dan dalam belajar segala sesuatu yang berkenaan dengan waktu, arah dan masa. Faktor penyebab dyslexia adalah keturunan, trauma otak dan gangguan pengolahan fonologi.

Tahapan membaca diawali dengan timbulnya kesadaran terhadap tulisan, anak mulai menyadari pentingnya buku, kadang dia akan membawanya kemana-mana. Kedua, tahap membaca gambar, anak TK sudah mulai memaknai dirinya sebagai pembaca, memberi makna gambar, Ketiga adalah tahapan pengenalan bacaaan, pada tahapan ini anak TK teah dapat menggunakan tiga  sistem bahasa, seperti fonem (bunyi huruf), semantik (arti kata) dan sintaksis (aturan kata atau kalimat) secara bersama-sama. Anak yang sudah tertarik pada bahan bacaan mulai mengingat kembali bentuk huruf dan konteksnya. Terakhir adalah tahapan membaca lancar.

Ketika akan mengajarkan membaca kepada anak, ada beberapa faktor yang harus kita perhatikan, agar kita lebih bijak menyikapi anak yang memiliki kesulitan membaca. Berikut ini adalah beberapa bimbingan terhadap anak yang kurang mengenali huruf. Jadikan huruf bahan nyanyian dan tampilkan huruf serta diskusikan mengenai bentuk (karakteristiknya) khususnya huruf-huruf yang memiliki kemiripan (seperti p, b, q dan d)


Voila, tulisan kali ini.. nantikan tulisan selanjutnya ya!

salam.

Sunday, February 19, 2017

Education: Mahluk Menyebalkan Bernama "Anak Kecil"

Tidak pernah terpikir akan menjadi guru PGTK. Dulu saya benci yang namanya anak kecil. Rasanya, saya tiba-tiba besar saja.

Tidak pernah terbayangkan akan disalami tangan oleh murid-murid ketika kami berpapasan di pagi hari atau ketika berpisah siang harinya.

Tidak pernah terlintas akan begitu terfasilitasi kegemaran saya akan seni, cat, kuas, kertas, gunting, lem, pensil warna dan semua barang-barang untuk membuat karya seni yang tersedia. Meski hanya dipamerkan beberapa hari saja. Senangnya minta ampun.

Kisah menuju guru PAUD ini berawal dari pertemuan dengan teman kuliah di angkot. Saat itu saya sudah mengajar les part-time dan masih rajin main ke kampus, sekedar ngopi dan melamun di halaman depan gedung ISOLA.

Kira-kira begini percakapan waktu itu.
Saya: hei!
Wika: hei, mau ke mana?
Saya: ke kampus ketemu temen.
Wika: oh.. Udah kerja?
Saya: udah.
Wika: dimana dan bla bla bla

Akhirnya...

Wika: sekolahku lagi buka lowongan, mau coba?
Saya: dimana? Ngajar apa?
Wika: ngajar anak playgroup. Coba aja. Ini alamatnya.
Saya: oh G****?
Wika: iya, tapi buat K*******nya sih. Gmn?
Saya: boleh lah.


Meski miskin pentahuan tentang anak. Lebih tepatnya benci anak-anak. Lalu saya coba saja. Awal-awal masuk kerja sebagai fresh graduate yang ga punya pengalaman ya,, apa lagi sih yang dinilai selain kemampuan bahasa inggris lisan yang cukupan, keterampilan ngajar saat micro teaching, wawancara kemudian diospek. Iya sebelun tanda tangan kontrak kerja, saya diundang untuk masuk ke kelas yang sudah berjalan dan mulai interaksi dengan anak-anak, mengajak mereka bermain, mengobrol.

Anak-anak itu menyebalkan. Jika ingin mainan, nangis. Ingin pipis tapi belum bisa ke toilet sendiri nangis. Hobinya jambak-jambak rambut. M.E.N.Y.E.B.A.L,K,A,N maunya menang sendiri, Dia pikir dialah pusat perhatian, semuannya adalah miliknya. Mainan A punya dia, perosotan punya dia. Semua milik dia. Sampai satu sekolahpun itu miliknya. Egois.

Tapi setelah lebih dekat mengenal mereka. Keseharian mereka. Kepolosan dan kemampuan kecil yang tiba-tiba muncul ditengah term (istilah pembuatan laporan per 3 bulan sekali), sukses membuat saya jatuh cinta dengan dunia anak. Mereka memang kertas putih yang bisa kita (orang dewasa) gambari dan taruh warna apa saja. Tangisan dan amarah mereka adalah bentuk komunikasi, jauh sebelum mereka berbahasa. Jambakan, cakaran dan tendangan mereka adalah wujud keingintahuan yang besar akan aksi-reaksi. Kemampuan yang kita (orang dewasa) pikir, gampang, ternyata sulit loh untuk mereka pelajari, seperti pipis di toilet, mencuci tangan, makan sendiri dan menyikat gigi. Mereka butuh kita untuk mengajarkannya.

Rasa benci ini semakin hilang dan pudar ketika, saya diingatkan kembali dengan berbagai teori tumbuh kembang anak, kemampuan majemuk dan seabrek teori-teori yang secara jelas nyata jika saya gunakan kepada murid saya, maka akan terlihat perbedaan pada anak, nantinyan. Anak kecil akan selalu menyebalkan. Begitulah mereka hingga kita tahu kunci untuk menaklukannya.

Yuk simak postingan selanjutnya tentang anak-anak!

Sunday, February 12, 2017

Parenting: Early Literacy for Kids (2)

Menulis nama

Setelah postingan minggu lalu tentang literasi untuk anak. Sekarang kita kerucutkan lagi ke teknis cara berlatih menulis nama. Tulisan ini,  jawaban untuk salah satu orang tua murid yang berkonsultasi dengan saya, sebagai guru dan psikolog anak ketika Parents Teacher Meeting (PTM). Kasusnya, saya mengajar di level Pre-school/Nursery atau 3-4 tahun. Persiapan menuju K-1. Ibu siswa saya menanyakan apakah anaknya dapat mengikuti kelas, bagaimana di kelas, dan pertanyaan lainnya. Hingga pertanyaan tentang Time Out dan menulis nama.
Mom: Miss, kok  anak saya belom bisa nulis namanya sendiri ya?
Saya: Begini mom, untuk ******, memang masih menebalkan huruf saja, kami, saya dan asisten saya, selalu mengajak ****** untuk melatih menebalkan hhuruf dan mengenalkan huruf.
Mom: Iya Miss, saya juga di rumah nyiapin namanya di-print, banyak, tapi kok dia ga mau ya?
Psikolog: Bagaimana mommy membuat tulisannya? Seberapa besar?
Mom: saya print selembar itu banyak namanya. Tetep ga mau.
Psikolog: Kemungkinan tulisan yang dibuat mommy terlalu kecil, jadi anak malas melakukannya.

Setelah pertemuan itu, saya kemudian Googling, seperti yang selalu dilakukan siapapun ketika memiliki pertanyaan dan ga tahu harus nanya ke siapa. Akhirnya saya menemukan refererensi kegiatan menyenangkan, sesuai usia anak dan DIY project juga. Yuk simak bagaimana cara membuatnya, memperkenalkan kepada anak dengan cara yang menyenangkan dan sesuai umur mereka. Voila!

1.       One Full Page Activity
Kebetulan si sulung  belum mulai mengerjakan kegiatan ini, saya berencana mengajak si sulung melakukannya ketika masuk K-1 atau TK A nanti. Karena, kemampuan motorik kasar si sulung belum matang, jadi tidak saya paksakan untuk mulai ke motorik halus salh satunya memegang pensil, kecuali dia yang memintanya sendiri, seperti mewarnai dan menggambar.
Setelah penelusuran-penelusuran random, ditemukanlah ide ini di salah satu situs favorit saya, pinterest. Ini dia kegiatan satu halaman penuh untuk menulis nama.
  


Sumber: Pinterest


2.       Customize Nametag
Saat itu saya uji coba di kelas, dengan menyiapkan nama masing-masing anak yang dicetak kemudian dilaminating, sehingga anak bisa menebalkan kemudian menghapusnya. Setelah beberapa kali pertemuan anak mulai menebalkan huruf yang lebih kecil, hingga ke ukuran sesungguhnya. Cara pembuatannya ada dua: satu bisa melalui situs online (sumber) dan unduh font Dotted Letters.



Sumber: Dokumen penulis

Kegiatannya, setelah anak diperkenalkan huruf-huruf namanya, anak diajak untuk menebalkan. Biasanya saya akan memberian reward berupa bintang kecil di sebelah namanya. Mereka biasanya senang dan semangat untuk mengerjakannya di lain waktu. Yuk, boleh coba di rumah.. Jangan lupa share ya!


Nantikan kegiatan menarik lainnya!

Sunday, February 5, 2017

Parenting: Early Literacy for Kids


Apa sih, sepertinya kata-kata literasi ini sering sekali terdengar baik di dunia pendidikan formal maupun non-formal. Bagaimanakah praktek literasi awal yang bisa kita kenalkan ke anak kita di rumah?
Awal tahun ajaran 2016-2017 kemarin, selain Kurikulum 2013 yang digunakan di sekolah, ada juga program literasi yang harus diperkenalkan kepada anak. Program literasi ini, salah satu upaya untuk menumbuhkan rasa cinta anak untuk membaca buku. Maka dari itu, kita memulai dari hal yang paling kecil, yaitu membacakan buku kepada anak, seraya memperlihatkan tulisan, meskipun anak belum tentu sudah bisa membaca, namun guru menunjukkan setiap kata yang terucap dengan tulisan yang ada.
Dalam dunia kebahasaaan, satu kata memiliki unit terkecil yaitu huruf. Nah ini dia, cikal bakal kemampuan membaca anak dimulai. Tapi bagaimana sih, cara mengajarkannya?
Early literacy theory emphasizes the more natural unfolding of skills through the enjoyment of books, the importance of positive interactions between young children and adults, and the critical role of literacy-rich experiences. We can see that the first three years of exploring and playing with books, singing nursery rhymes, listening to stories, recognizing words, and scribbling are truly the building blocks for language and literacy development. sumber

Hai semuanya sudah siap dengan tips and trik mengajarkan nama kepada anak usia dini? Tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mengenalkan kegiatan ini pada anak, yaitu sebagai berikut:
Usia
Untuk mengenal nama secara tertulis, anak bisa diajarkan mulai dari 2 tahun, ketika anak sudah mengenal diri sendiri, keluarga dan lingkungannya. Anak usia dua tahun sudah masuk pra-sekolah atau biasa disebut Anak Usia Dini. Anak usia dua tahun, keterampilan berbahasanya sudah mulai berkembang. Selain bahasa ibu yang sudah ajeg, anak mulai tertarik dengan bahasa lainnya. Waktu yang tepat untuk ayah bunda mulai mengenalkan pula bahasa lain.
Anak usia 3 tahun memasuki tahapan mandiri,mengajarkan nama anak merupakan kegiatan yang aktif. Seperti melompat, mencari, menyusun.
Anak usia 4 tahun sudah mulai bisa menebalkan garis, pada usia ini anak sudah memiliki keingintahuan yang lebih besar. Kemampuan motorik halusnya pun sudah mulai terbentuk
Motorik kasar
Salah satu kegiatan yang harus banyak dikerjakan oleh anak usia dini adalah bereksplorasi dengan tubuhnya. Banyak bergerak dengan instruksi yang jelas merupakan kegiatan yang mendukung kesiapan anak kelak ketika memasuki sekolah. Sementara di umur 2-4 tahun, ajaklah mereka bermain sambil belajar. Melompat dari satu gambar ke gambar yang lain, mencari benda yang disembunyikan dan berlari merupakan kegiatan yang menyenangkan.
Motorik halus

Di usia 2-4 tahun, kegiatan motorik halus, difokuskan kepada eksplorasi bahan, menempel dan menyusun. Ini adalah kegiat simulasi motorik halus, untuk nantinya digunakan sebagai kemampuan anak menulis, menggambar dan life  skills (mengikat tali sepatu, mengenakan pakaian, makan, dan mengarjakan hal kemandirian lainnya)
Kegiatan ini bisa lohh dijadikan alternatif kegiatan anak kalau sedang hujan di rumah, bahan-bahannya pun bisa diambil langsung dari dapur dan dari meja kerja ayah bunda tentunya. Voila, ini dia..
1.       Koran
2.       Teh
3.       Kopi
4.       Biji jagung
5.       Kertas origami/kertas bekas
6.       Lem fox
7.       Print out huruf, A4 untuk dua huruf warna merah
8.       Print out huruf , A4 untuk dua huruf untuk dijadikan kegiatan motorik halus

Kegiatan pertama
Ajak anak untuk memperhatikan kartu huruf yang kita bawa, ajak mereka mengulangi huruf yang ada pada nama mereka satu per satu. Contoh: S, E, K, A, R.

Kegiatan Kedua
Susun kartu huruf tadi di lantai, ajak anak untuk melompat dari satu huruf ke huruf lain dengan menyebutkannya terlebih dahulu, berikan selalu reward berupa hi-five atau atau kata-kata pujian seperti “bagus, Nak, yuk coba lahgi”, “Benar sekali, ini huruf S”, dsb

Kegiatan ketiga

Siapkan kertas huruf yang tinggal diisi oleh bahan-bahan yang disiapkan tadi, ajak anak berkeskplorasi dengan lem, koran, teh, kopi, biji jagung dan origami. Ajak anak untuk menyobek koran, mengambil lem adan menyebarkannya ke seluruh bagian huruf lalu, anak mulai membuat kolase seuai dengan bahan yang mereka sukai terlebih dahulu



 Terimakasih sudah membaca, dicoba dan share ya...nantikan permainan lainnya, ayah bunda!